Berita

Dipertahut Laksanakan Sosialisasi SOP/GAP Pisang 2013

Kamis Kliwon, 12 Desember 2013 04:38 WIB 3979

Permasalahan pengembangan pisang di Kabupaten Bantul antara lain seperti bibit, kualitas produksi yang belum berdaya saing, harga yang fluktuatif, akses dan peluang pasar, pengetahuan dan ketrampilan petani yang masih lemah baik dalam teknologi produksi maupun pasca panen serta kelembagaan dan permodalan yang masih lemah. Diperlukan beberapa strategi pengembangan untuk mengatasi masalah tersebut seperti perluasan tanam, pewilayahan sentra-sentra pengembangan , penguatan modal dan kelembagaan, serta fasilitasi pemasaran hasil dengan temu usaha, asosiasi. Selain itu intensifikasi dengan penerapan SOP/GAP dapat dilakukan dalam peningkatan mutu pisang. Kegiatan peningkatan produksi dan produktivitas tanaman hortikultura program peningkatan produksi pertanian/perkebunan dari anggaran APBD Kabupaten tahun 2013 ini Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bantul melaksanakan sosialisasi SOP/GAP pisang kepada perwakilan kelompok tani dari 17 kecamatan yang belum pernah mendapat informasi tentang SOP/GAP sebelumnya. Acara dilaksanakan dalam 2 gelombang masing-masing 40 orang pada tanggal 4 dan 5 Desember 2013 yang lalu ini juga menghadirkan petugas mantra tani dari kecamatan setempat. SOP (Standart Operasional Prosedur) dan GAP (Good Agricultural Practices) adalah sebagai panduan penerapan budidaya yang baik secara benar dan tepat untuk mencapai sertifikasi produk sebagai tanda pemenuhan persyaratan standar mutu dan keamanan pangan. Sebagai pembicara pertama adalah plt Kepala Dipertahut, Dr. Drs. Suyoto HS. M.Si. MMA yang mengungkapkan tentang kebijakan pengembangan pisang sebagai salah satu komoditas prioritas unggulan Bantul. Dengan potensi pengembangan di hampir semua kecamatan di Bantul pengembangan agribisnis pisang memiliki potensi ekonomi sosial yang cukup tinggi dalam rangka perluasan lapangan kerja dan peningkatan pendapatan petani. Daerah fokus pengembangan pisang di Kabupaten Bantul sendiri terdapat di Kecamatan Kretek, Bambanglipuro dan Pandak, dengan jenis pisang yg dikembangkan antara lain pisang ambon, kepok, raja, dan pisang susu (koja). Sebagai narasumber kedua adalah Widodo, SP yang memberikan gambaran tentang cara budidaya pisang sesuai SOP serta pengendalian OPT pisang yang benar dan tepat. Dasar dalam budidaya pisang meliputi penyediaan bibit, persiapan lahan dan penanaman, pengairan dan drainase, pemupukan, pemberantasan gulma dan pembersihan tanaman serta pengendalian hama dan penyakit. Sedangkan dalam pengendalian OPT tanaman pisang hal-hal yang perlu diperhatikan meliputi pemilihan bibit yang sehat, pemupukan dan pembumbunan rumpun saat awal musim hujan, melakukan pindah tanam, sanitasi lingkungan dan tidak membuang batang pisang di bawah tanaman/rumpun, alat pertanian yang bersih, pembrongsongan bunga pisang dan penggunaan agensia hayati (Gliocladium sp. atau Trichoderma harsianum). Dan sebagai narasumber terakhir adalah Yekti Nugroho, B.Sc yang memaparkan tentang sistem pencatatan usaha tani pisang yang merupakan bagian dari penerapan SOP/GAP budidaya pisang. Diharapkan setelah adanya sosialisasi ini akan dilaksanakan pelatihan SOP/GAP dari kelompok-kelompok tani tersebut (desH)